Guru versus Dosen

Sampai sekarang saya masih sering mendengar kata seperti ini: “Wah hebat sekali kamu ya, guru SMA bisa dapat beasiswa ke Amerika”. Atau “Kamu ngajar di Universitas mana?” atau malah: “kok kamu mau sih jadi guru?”

Dalam hati saya selalu berontak, dan sebenarnya ingin marah kepada orang yang seolah memberi label: guru di Indonesia itu katrok, dan gak mungkin bisa kuliah ke luar negeri. Atau, barangkali teman-teman saya ingin menyimpulkan bahwa yang berhak kuliah ke luar negeri itu hanya dosen doang.

Terkait dengan hal ini saya juga menyadari tidak boleh sepenuhnya menyalahkan orang-orang terlanjur memberi stereotype negative terhadap guru. Wajar sih mungkin, karna saya sempat mengalamai sendiri, dengan terang-terangan ada oknum pemerintah daerah suatu kabupaten menjanjikan saya lulus jadi guru negeri dengan membayar Rp. 45 juta. Saya saat itu langusng putar haluan, dan tak akan mau mengajar di sekolah di kabupaten itu. Tapi, anehnya ada banyak sekali oknum-oknum sarjana yang rela menghamburkan puluhan juta agar dapat gelar Pe-eN-eS. Sehingga wajar saja, jika ada beberapa oknum guru yang berkat praktek suap menyuapnya, kini berhasil menggembosi mutu dan profesionalisme tenaga pendidik.

Walhasil, beberapa oknum produk sogokan ini, menjadikan profesi mereka sebagai lahan untuk mengumpulkan uang sebagai ganti uang muka yang telah mereka investasikan di muka. Sehingga, mereka jadi ogah-ogahan mengajar, tapi sangat semangat dengan kata sertifikasi dan kenaikan gaji. Saya bahkan menjadi saksi hidup, ada beberapa oknum guru yang hanya datang ke sekolah untuk menerima gaji. Ada juga guru yang datang untuk tanda tangan kehadiran, lalu memberikan tugas kepada kelas untuk mencatat mata pelajaran, lalu si guru kembali ke ruang kantor atau pulang ke rumah untuk melkukan aktifitas lain. Masih banyak sih beberapa penyakit-penyakit guru, yang karnanya masyarakat memandag sebelah mata profesi ini. Ditambah lagi dengan cap guru sebagai pekerjaan yang tidak punya masa depan cerah, gaji sangat rendah (mereka yang belum PNS, itu cuman digaji Rp. 500 per bulan, gak percaya? boleh loh dicek sendiri di lapangan), program pengembangan diri yang minim, tidak diberikan kesempatan untuk melakukan research, dll.

Tapi, tidak semua guru seperti itu loch. Ada banyak sekali mereka yang menolak profesi yang lebih menjanjikan demi mengabdikan ilmunya untuk masa depan generasi penerus bangsa (ciye… serius banget bacanya, nyantai dikit gan…). Saya sering mendegar kalimat seperti ini: “Lah kalau yang pinter-pinter maunya jadi dosen, terus yang ngasih fondasi kokoh pada siswa siapa?” Atau, kalimat seperi ini, “Kalau lulusan terbaik kampus jadi researcher semua, nanti yang memberi motivasi murid-murid jadi researcher siapa?”

Setelah saya pikir-pikir benar juga. Ada banyak sekali lulusan-lulusan terbaik dari fakultas keguruan dan ilmu pendidikan pada gengsi jadi guru. Padahal mereka kuliah di fakultas keguruan, bukan fakultas kedosenan, atau fakultas kepenelitian. Yang tertarik menajadi guru malah mereka yang dulu gak niat masuk fakultas keguruan (karna gak ada fakultas yang mau nerima mereka kuliah); nah parahnya setelah mereka dapat gelar S.Pd dengan bangganya dia melakukan praktek suap, untuk memperolah zona aman. So, saat ini ada banyak sekali guru yang: 1. Dulunya gak niat jadi guru, karna gak ada kerjaan lain maksa-maksain diri jadi guru, 2. Mereka yang gak berani gentlemen ikut tes PNS secara fair dan jujur, berani memberikan amplop pada oknum pemerintah daerah.

Nah lowh, kalau gitu gimana pendidikan Indonesia bisa maju. Padalah data dari OECD excecutive summary terungkap bahwa: the top-performing systems we studied recruit their teachers from the top third of each cohort graduating from their school system: the top 5 percent in South Korea, the top 10 percent in Finland and the top 30 percent in Singapore and Hongkong[1]. Jadi logikanya, kalau ada 100 lulusan calon guru, di Korea Selatan itu mengambil lima orang lulusan terbaik, di Finlandia 10 orang lulusan terabik, dan di Singapure 30 orang lulusan terbaik untuk selanjutnya jadi guru PNS. Data ini pun berlaku pada lulusan SMA, jadi lulusan terbaik SMA di negara-negara di atas pada melanjutkan ke fakultas keguruan. Kalau di Indonesia, sudahlah tidak minat jadi guru, sampai di kampus mendapatkan pengajaran yang kurang pas pula.

Bukannya saya ingin mengkritik para dosen di Indonesia, tapi sepanjang pengetahuan saya, para dosen itu adalah mereka yang akan membentuk mahasiswa menjadi guru. Akan tetapi sangat sedikit dari mereka yang mempunyai pengalaman menjadi guru. Sedangkan di sini, di tempat saya kuliah saat ini, rata-rata dosen saya adalah mereka yang telah menjadi guru selam minimal 5 tahun. Ibaratnya begini lowh, dokter-dokter di Indonesia itu mereka diajar oleh dosen yang backgroundnya dokter juga. Atau para perawat, mereka juga sedikit banyak diajar oleh dosen yang pernah dan sedang menjadi perawat. Jadi idealnya, dosen-dosen di Indonesia itu, mereka harus juga harus mengajar dulu di SD, SMP atau SMA sebelum mereka menjadi dosen di kampus. Bagaiamana mereka bisa mengajar para calon guru SD, sedangkan meraka satu jam pun tak pernah memegang kelas di sekolah dasar. Bisa dipastikan, ilmu yang didapat dari para calon guru SD itu, sekedar teori belaka.

Namun, yang terjadi di negeri kita, ada beberapa oknum dosen yang notabene minim pengalaman mengajar di sekolah, menjaga jarak yang jauuuuhhhh sekali dengan mahasiswanya. Mau punya office hour dengan dosen di kampus-kampus di Indonesia itu susaaahhhhhhh banget, ha..ha..ha..ha… (Mohon maaf Bapak/Ibu dosen, tapi saya sedang berbicara fakta, yang marah berarti pelakunya, yang tidak marah berarti bukan termasuk golongan dosen ini, ha..ha..). Saya sering mendengar teman-teman mahasiswa begini: “di email tidak dibalas, di sms tidak dibalas juga, ditelfon direject, didatangi di rumah katanya: kalau urusan kampus, di kampus aja.” Nah yang curhat seperti ini itu ada dari mereka ibu guru yang sedang ikut kuliah untuk mendapatkan ijazah S1 (karna dipaksa sama pemerintah, kalau gak S1 gak bisa sertifikasi, padahal pemerintah gak menyediakan kampus untuk guru yang mengajar di pelosok. Oh iya, di Indonesia itu guru yang masih belum bergelar S1 ada 2.7 juta yang maroritasnya adalah guru SD, atau lebih dari 50% guru SD belum bergelar S1. Sudahlah dipaksa pemerintah untuk kuliah, eh setelah kuliah dimainin sama Bapak Ibu Dosen, padahal secara keilmuan mengajar anak SD, antara dosen dan guru SD saya berani mengadu, guru SD lah yang akan menjadi pemenangnya.

Wah saya kok jadi ngomong panjang lebar ini jadinya, padahal sebenarnya yang ingin saya sampaikan itu ini:

  1. Hapus jauh-jauh stereotype bahwa guru (dalam tanda kutip guru sekolah benaran, bukan dosen), adalah pekerjaan katrok, yang kalau bisa sekolah ke luar negeri itu sesuatu yang WAHHH banget. Atau yang harus tetap S1, gak usah lanjut lagi kuliah atau meneliti.
  2. 2.     Pemerintah gak boleh pilih kasih, masak yang diberi beasiswa cuman DOSEN saja, guru dikit banget. Coba deh berapa banyak dana hibah, dana sandwich, dan penelitian yand diperuntukkan buat dosen. Padahal dulu pada saat ingin menaikkan dana APBN dan APBD untuk naik jadi 20% itu isu yang diangkat adalah guru, guru dan guru, bukan dosen. Tapi yang menikmati malah dosen-dosen. Guru boro-boro, untuk dapat ijin kuliah aja susah banget. Argumen yang berkembang seperti ini: kalau guru kuliah, yang ngajar murid siapa? Saya setuju, tapi bukankah kalimat ini bisa dibalik: kalau para dosen pergi kuliah, yang ngajar mahasiswa siapa?
  3. 3.     Sekarang gaji guru udah gede; hasilnya, berbondong-bondonglah semua pada masuk fakultas keguruan. Nah, momen ini harus dimanfaatin oleh Bapak Dekan dan Pak Rektor, buatlah test masuk yang agak ketat sedikit, bukannya malah membuka kelas non-reguler. Kelas non-reguler itu, mereka kuliahnya sore hari dan harus membayar lebih banyak dari mahasiswa regular. Terus, mahasiswa non-reguler itu test masuknya tidak pakai SNMPTN, tapi cukup test masuk perguruan tinggi setempat saja (setahu saya sih).
  4. 4.     Kalau boleh saya memberikan masukan, para dosen-dosen di Indonesia itu sebaiknya juga turun gunung, jangan hanya berdiam diri di kampus saja. Sekali-kali cobalah memegang kapur dan mengajar anak-anak SD, SMP atau SMA, dan rasakan bagaimana sensasinya. Jadi, waktu memberi teori itu sekalian bisa berbagi pengalaman nyata. Atau turun gunung untuk memberikan pelatihan yang berkelanjutan dengan para guru dalam kelompok kecil (professional learning community), sehingga kualitas guru terus meningkat. Tapi bukan mengadakan seminar yang dalam ruangan ada 100 lebih peserta, seminar semacam ini lebih sedikit membawa hasil, karna pasti yang duduk di barisan belakang itu pada asik update status di facebook atau pada ngetweet di twitter dari smartphone-nya.
  5. 5.     Teman-teman semua, jangan gengsi untuk jadi guru. Karna menjadi guru itu keren abis. Selain bisa awet muda, karna bekerja dengan anak-anak yang unyu-unyu, kita bisa dapat investasi pahala yang sangat banyak dari Tuhan Yang Maha Esa. Terus, jadi guru itu peluang untuk meneliti itu lebih banyak ketimbang para dosen, cuman ya kita harus rela pakai biaya sendiri, gak seperti para dosen yang diberi hibah dari Dikti.

Nah, untuk sementara itu dulu kicauan saya terkait statusisasi guru dan dosen. Semoga dengan tulisan ini, ada sedikit kesadaran bahwa guru berkualitas itu adalah syarat wajib untuk perbaikan mutu pendidikan Indonesia. Oleh karenanya, para lulusan pemerintah harus bisa membuat kebijakan agar para lulusan terbaik SMA itu merasa nyaman masuk fakultas keguruan; terus para lulusan terbaik dari fakultas keguruan langsunglah diangkat menjadi guru negara, dengan memberikan fasiltas yang baik, seperti: gaji, pengembangan diri, peluang meneliti, dll.

Nah, kalau ini terjadi, maka jangan salahkan Indonesia kalau suatu saat nanti kita punya generasi penerus negeri yang mempunyai kualitas tinggi dan profesionalisme yang mumpuni.


[1] http://www.smhc-cpre.org/wp-content/uploads/2008/07/how-the-worlds-best-performing-school-systems-come-out-on-top-sept-072.pdf

One thought on “Guru versus Dosen

  1. hello!,I really like your writing very so much! share we keep in touch extra about your post on AOL? I require an expert in this area to unravel my problem. Maybe that is you! Taking a look ahead to look you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s