Seputih Salju Michigan

Review Novel:

  1. Review 3/5 Oleh Siti Nuryanti
  2. Review 3/5 oleh Afifah Mazaya
  3. Review 3/5 Wenny R

Sinopsis:

Adalah Dzaki, oemuda idealis dari bagian tengah Sumatera, harus merasakan manis dna pahit bersekolah di Amerika. Dzaki adalah sosok religius, open minded, tapi terkadang terlihat sangat lugu. Dia berkawan dengan siapa saja, tak pandang bulu apa pun agama dan suku mereka.

Namun, siapa sangka, Dzaki yang begitu toleran harus berurusan dengan aksi-aksi kriminal, serta pahitnya diskriminasi. Dia harus merasakan dinginnya penjara Michigan demi mempertahankan marwah dna martabatnya. Bukan hanya itu, Dzaki juga harus bergumul, merasakan timah panas karena menggagalkan aksi penembakan di kampus tempatnya menuntut ilmu. Puncaknya, Dzaki diculik dan disekap oleh bandit Detroit.

Akan tetapi, tragedi-tragedi memilukan tersebut malah mengantarkan pemuda asal Jambi ini pada kisah cinta yang rumit. Dzaki, yang mempunyai wibawa dan aura pria Indonesia, berhasil memikat setidaknya empat hari dara jelita. Tentu Dzaki harus menentukan satu pilihan.

Novel ini mencoba mengurai perjuangan mahasiswa Indonesia di Amerika. Romansa cinta, keikhlasan, pengorbanan, heroisme, toleransi, kesemuanya terbungkus apik hingga membuat pembaca pada setiap episode-episodenya.

Product details

  • Paperback: 192 pages
  • Publisher: Gramedia Widiasarana Indonesia (June 22, 2017)
  • Language: Indonesian
  • ISBN-10: 6023759726
  • ISBN-13: 978-6023759729
  • Product Dimensions: 6.3 x 0.4 x 8.8 inches
  • Shipping Weight: 12.6 ounces

 

This book can be purchased online through Amazon 

Or from the books store in Indonesia

 

JADI PENDIDIK KREATIF DAN INSPIRATIF

JADI PENDIDIK KREATIF DAN INSPIRATIF – By DION GINANTO

Review ini dapat ditemui di Blog Mis ChaCha

Buku dengan judul JADI PENDIDIK DAN INSPIRATIF karangan Dion Eprijum Ginanto ini bacaan wajib untuk guru, calon guru, orang tua dan siapa pun yang mencintai pendidikan dan benar-benar ingin menjadi pendidik sejati.
Nama-nama penyakit yang biasa menjangkiti para pendidik, dituliskan dalam singkatan-singkatan unik. Begitu juga dengan obat-obat penawarnya, disingkat dengan menggunakan nama yang unik.
 Buat kita-kita sebagai calon pengajar, saya sarankan tuk membaca buku ini. Isinya menarik, dan dapat memotivasi diri kita untuk menjadi seorang calon pendidik yang lebih baik.
Berikut akan saya sajikan sedikit isi dari buku karangan Dion E.G. ini….
TBC VS KINA
(Tidak Banyak Cara vs Kreatif, Inovatif, dan Aplikatif)

Guru yang mengidap penyakit TBC umumnya tidak memiliki jiwa pengajar dan pendidik. Mereka menjalankan tugas hanya untuk mendapatkan gaji belaka. Sehingga dalam mengajar sang guru tidak banyak tahu tentang murid. Seyogyanya seorang guru adalah sosok yang mempunyai beribu-ribu cara dalam mengajar, bukan sebaliknya. Ironisnya lagi, terkadang guru mati kutu, terpaku, dan gugup karena tidak tahu apa yang harus disampaikan di depan kelas.
Ada juga guru yang nyerocos untuk menyampaikan materi, namun tiba-tiba ia kehabisan topik yang harus dijelaskan. Seluruh materi sudah selesai diterangkan tetapi waktu masih panjang, akibatnya siswa yang dikorbankan. Marah dan omelan biasanya dilakukan untuk menutupi kekurungan guru. Ini semua dapat dieliminasi jika guru mempunyai banyak metode atau cara mengajar.

Kasus lain, ada sebagian guru yang dalam mengajarnya sangat serius sehingga terkesan monoton. Apa yang diterangkan adalah apa yang sudah dihafalnya berpuluh-puluh tahun. Ketika masuk kelas, sang guru tidak membawa selembar kertas pun. Semua materi yang akan diajarkan sudah siap berada di dalam otaknya, dan dapat di recall sewaktu-waktu dibutuhkan. Kasus seperti ini biasanya terjada pada (maaf) guru senior yang sudah lebih belasan tahun mengajar. Masuk ke dalam kelas, kemudian memberikan materi dengan cara mendikte kepada siswa kemudian memberikan tugas, begitu seterusnya, siklus mengajar tersebut akan terus berulang.
TBC (Tidak Banyak Cara)
Tidak sedikit guru yang mengajar hanya menggunakan cara yang itu-itu saja dari tahun ke tahun. Padahal di era global seperti saat ini, sudah seharusnya guru mengadopsi metode-metode pengajaran inovatif, yang terbarukan, dan selalu mengikuti perkembangan teknologi dan informasi. Guru yang tidak dapat mengikuti perkembangan informasi dan teknologi bisa dijauhi siswanya, karena dianggap kolot dan tidak nyambung.
Guru yang berpenyakit TBC selalu mengaplikasikan pendekatan pengajaran Teacher Centered Learning (TCL), dimana guru adalah sebagai pusat atau sumber ilmu yang akan diberikan kepada siswa. TCL menempatkan siswa sebagai pihak pasif yang tidak dilibatkan dalam proses aktualisasi diri di dalam kelas. sebaliknya, guru tidak pernah mau berkenalan dengan SCL (Student Centered Learning) yang memposisikan siswa sebagai pihak aktif dalam proses pembelajaran. Siswa diharapkan dapat terlibat secara aktif mulai dari pra in dan pasca kelas. Tapi tidak perlu khawatir, karena TBC dapat diobati dengan mengkonsumsi pil KINA.
KINA (Kreatif, Inovatif, dan Aplikatif)
Guru yang mengidap penyakit TBC, dianjurkan dapat mengkonsumsi obat KINA. Meskipun KINA rasanya pahit, namun KINA diyakini dapat menyembuhkan penyakit TBC. Dalam obat KINA, kandungan yang pertama adalah Kreatif. Menjadi guru yang kreatif memang tidak mudah, namun demikian yakinlah jika guru sudah ber-azzam untuk kreatif dalam menemukan cara-cara atau metode dalam mengajar, ia akan menjadi guru favorit yang akan selalu dirindukan siswa di kelas.
Kreatif maksudnya, guru dapat mencari cara mengajar yang belum pernah dipikirkan oleh seorang guru lain di sekolah. Guru yang kreatif adalah mereka yang tidak mengeluh dengan keterbatasan sekolah dan keterbatasan siswa, namun sebaliknya dapat mengubah keterbatasan menjadi peluang-peluang yang bisa meningkatkan kualitas mengajar.
Inovatif, artinya ia harus dapat membuat mata pelajaran selalu terasa baru. Ia selalu menciptakan inovasi-inovasi baru yang membuat siswa tidak akan merasa bosan. Inovasi pengajaran yang baru hanya akan bisa didapat jika guru rajin bertanya, membaca dan bereksperimen. Kita patut bersyukur akhir-akhir ini banyak guru yang dapat menemukan dan membuat aplikasi pengajaran menggunakan software komputer. Sebagai guru yang bersifat inovatif, kita harus mempunyai rasa iri untuk keberhasilan mereka, seraya mencoba untuk menciptakan hal serupa.
Aplikatif maksudnya, banyak sekali guru yang mahir dalam hal teori, namun tidak mampu menyampaikan dengan lebih rill untuk siswanya. selidik punya selidik, penyebab utamanya adalah mereka kurang mampu menyederhanakan materi untuk disulap menjadi sesuatu yang aplikatif dan langsung dapat “disentuh” oleh siswa. Contohnya belajar matematika, saya sendiri sampai sekarang tidak tahu mengapa saya dulu harus mempelajari perkalian x, y, atau cos, sinus dan lain-lainnya. Hal ini dikarenakan ketika saya bertanya kepada guru tentang apa fungsi dari rumus-rumus itu dalam sehari-hari, sang guru tidak bersedia menjawab dan malah marah-marah kepada saya. Akibatnya saya sampai sekarang tidak tertarik untuk mempelajari matematika. Akan lebih arif jika guru dapat memberikan contoh aplikatif dalam kehidupan sehari-hari pada setiap materi yang mereka ajarkan.
Masih banyak lagi jenis-jenis penyakit para pendidik yang dipaparkan dalam buku ini. Semuanya dijelaskan dengan jelas, disertai juga dengan obat-obat dalam mengatasi penyakit-penyakit tersebut. Selain itu, di dalam buku ini juga terdapat cerita-cerita pengalaman pribadi dari penulis. Benerannnn dehhh…ini buku cocok banget buat kita yang sebagai calon pendidik anak bangsa. Bagi yang penasaran…silahkan mencari buku “JADI PENDIDIK KREATIF DAN INSPIRATIF” karangan Dion Eprijum Ginanto, ditoko-toko buku kesayangan anda^^
Bahasa : Indonesian
Negara : Indonesia
Penerbit : Galang Press Media Utama
Penulis : Dion Eprijum Ginanto
Jumlah halaman : 121

Tanggal rilis: 04 June 2012.

Dalam buku ini akan dipaparkan 10 jenis penyakit yang bisa menjangkit para pendidik beserta obat penawarnya. Dari 10 penyakit serta obatnya tersebut, di antaranya LESU VS JAMU KUAT (Lemah Sumber vs Jangan Malu, Konsultasikan) KURAP VS SALEP (kurang persiapan vs Siapkan Lakukan, evaluasi, dan Sempurnakan), KURAP VS SALEP (Kurang Persiapan vs Siapkan Lakukan, Evaluasi, dan Pastikan), KRAM VS CTM (Kurang Terampil vs Cekatan, Tekun, dan Menguasi), dan TBC VS KINA (Tidak Banyak Cara vs Kreatif inovatif, dan Aplikatif).

Undangan Menerbitkan Buku (Book Chapter)

Kami mengundang teman-teman praktisi pendidikan, mahasiswa, pengamat pendidikan untuk menulis “Book Chapters” dengan tema Pendidikan di Indonesia. Tulisan dapat berupa pengalaman pribadi, sumbangsi pemikiran, atau pandangan mendalam terhadap masa depan dunia pendidikan.

Pedoman penulisan:

  1. Tulisan berbahasa Indonesia, lebih diutamakan yang mudah dibaca, dipahami, praktis, serta memberikan pencerahan.
  2. Tulisan format: (1) Times New Roman; (2) Spasi 1.5; (3) tanpa rata kanan/kiri.
  3. Panjang naskah: minimal 3 halaman dan maksimal 15 halaman (termasuk daftar pustaka) .
  4. Format penulisan menggunakan APA (American Psychological Association) style (https://owl.english.purdue.edu/owl/resource/560/05/)
  5. Tulisan tidak pernah dipublikasikan sebelumnya.

Subtema:

  1. Pendidikan Usia Dini
  2. Pendidikan dasar dan Menengah (K-12)
  3. Pendidikan tinggi
  4. Kurikulum
  5. Pendidikan Inklusi
6. Pendidikan Karakter

7. Diskriminasi dalam dunia pendidikan

8. Peran Orangtua dalam Pendidikan 9. Evaluasi Guru

10. Pengembangan Diri Guru

11. Peningkatan Kinerja Kepala Sekolah

Deadline Pengumpulan Naskah:

Naskah dikirim ke: ginantod@msu.edu atau buw214@lehigh.edu paling lambat 21 Oktober 2016. Naskah akan diseleksi, dan akan diumumkan pada akhir November 2016.

Target Audiens:

Buku ini ditujukan kepada: guru, dosen, mahasiswa, praktisi pendidikan, pembuat kebijakan pendidikan, serta umum.

Editor:

  1. Dion Ginanto (Ph. D student Michigan State University)
  2. Budi Waluyo (Ph.D student Lehigh University).

Biaya Penerbitan:

Biaya penerbitan akan ditanggung bersama (atau mekanisme lain yang dapat selalu berubah).

Kontak person:
Jika ada pertanyaan lanjutan silahkan hubungi: ginantod@msu.edu dan buw214@lehigh.edu

Promotion pressure fuels academic plagiarism

  • Hasyim WidhiartoThe Jakarta Post

Sun, July 10 2011 | 08:00 am

Amid the country’s messy education system, the number of cases of plagiarism involving university lecturers is unlikely to abate. The Jakarta Post’s Hasyim Widhiarto explores the reasons why some lecturers steal from the works of others and how exactly works are plagiarized.

Dion Eprijum Ginanto, 25, an English teacher at SMA I Batanghari state high school in Jambi, was at school when he received a telephone call from a friend in Jakarta.

A senior lecturer at Gorontalo State University (UNG), according to his friend, had just been suspended for plagiarism.

Dion, also a regular opinion columnist for the local Jambi Ekspres newspaper, had no idea why his friend had called – until he realized that an article he published might have been plagiarized.

“I immediately surfed the Internet after finishing class. I was really shocked after I read media reports that the lecturer had stolen an article I wrote on my blog,” Dion said.

“I don’t understand why a respected academic, living hundreds kilometers away from here, wanted to risk his career by claiming another’s work as his own.”

The case emerged after the lecturer, who was identified as AR, faced an UNG internal academic inquiry following a report from a faculty member who had alleged there were numerous similarities between AR’s article and Dion’s.

AR’s article was titled “School Principals with a Vision of Sustainable Quality”, and was published serially by the Gorontalo Pos from May 5 until 7.

Dion’s article, “Professionalism and Education Betterment for School Principals”, was posted to his personal blog earlier this year.

During the inquiry, the university also determined that a second article written by AR published serially by Gorontalo Pos between May 23 and May 25 had also plagiarized another article.

AR’s article, “Education is not a Sleazy Capitalism”, was a “copy-pasted” from “Education for Who?: An Analysis of the 2003 Law on National Education System”, written by Muhammad Rizal Siregar, a labor activist from Medan, North Sumatra, for a local community bulletin in 2003.

Despite the serious violations, AR was not dismissed. The university only prohibited him from publishing any articles or scientific works.

Later, UNG rector Syamsu Qomar Badu announced that the university had dismissed AR from his positions at UNG’s School of Education Science and from the university’s academic senate.

Unlike Dion, who learned that his works were plagiarized from a friend, Jasmal A. Syamsu, 43, a professor at the husbandry faculty of Hasanuddin University (Unhas) in Makassar, South Sulawesi, discovered on his own that his research had been plagiarized.

“Last year, I was reading a book about husbandry when I suddenly noticed that it featured several paragraphs and graphs that I wrote for a joint research paper a few years ago,” Jasmal said.

“I was very upset since I and my research colleagues had worked extremely hard to complete the scientific publication.”

The plagiarized book, Sources and the Availability of Animal Feed Ingredients in Indonesia, was written by Heri Ahmad Sukria, a lecturer at Bogor Agricultural University (IPB), and Rantan Krisnan, an animal science researcher in North Sumatra.

IPB Press published the book in 2009.

Jasmal, one of the youngest professors at Unhas, however, said he considered the case closed after the Heri and Rantan telephoned him directly to apologize.

“They also asked the publisher to withdraw the book from circulation,” he added.

Amid government efforts to improve higher education, Indonesia has seen a spike in the number of high-profile plagiarism cases at the university level implicating several senior lecturers and professors.

Critics have questioned the oversight system put in place to ensure honesty and quality among lecturers, as well as the general state of the academic research culture across the archipelago.

Is it worth it?: Security offi cers check an incoming car heading into the newly built headquarters of the Education Ministry’s Directorate General of Higher Institution in South Jakarta on Wednesday. Amid government efforts to improve higher education, Indonesia has seen a spike in the number of high-profi le plagiarism cases at the university level implicating several senior lecturers and professors. JP/Wendra Ajistyatama Among the popular methods used by plagiarists include writing a newspaper column or scientific publication using information taken from scientific journals or the Internet without citing the original sources.

A message recently circulated on several university lecturer mailing lists saying that a “significant number” of lecturers had submitted plagiarized scientific papers and publications to meet promotion requirements.

Supriadi Rustad, who heads human resources at the National Education Ministry’s Higher Education directorate, said that plagiarism was one of the main reasons that the directorate declined to promote lecturers.

“We cannot never tolerate such conduct – even in the smallest amounts – because it is a violation of our academic ethics and culture,” Supriadi said in a statement, declining to elaborate on the kinds of plagiarism that the directorate had found.

Every year, according to Supriadi, an average of 5,000 university lecturers submitted applications for academic rank promotion to the Ministry’s Directorate General of Higher Education, which oversees university teaching staff.

“We usually found that only between 50 to 70 percent could meet all the criteria required [for promotion],” Supriadi said.

Under Indonesia’s higher education system, educators are ranked under five levels: teaching staff, associate lecturer, lecturer, associate professor and professor.

In order to get promoted, a lecturer must hold an appropriate academic degree and collect a certain number of points based on teachings, research and social activities.

Under the system, lecturers are urged to spend time in the classroom; to conduct research, publish books or scientific papers and to be involved in various professional organizations and community development programs.

A lecturer who has collected sufficient points can submit an application for academic rank promotion to the university.

If approved by university and regional reviewers, the application will then be submitted for final assessment to the Directorate General of Higher Education in Jakarta.

According to the directorate, there are currently 197,922 full-time lecturers, only 2.3 percent of whom were professors.

Supriadi dismissed allegations that bureaucracy and the desire for promotion was behind the incidents of plagiarism and other mischievous behavior.

“Plagiarism emerged at the same time with the birth of science.”

“It has also happened because our academic culture remains trapped in an ‘unhealthy’ competition,” Supriadi said.

The ministry, he said, had recently garnered support from state and private universities to launch a joint “Anti-Cheating and Anti-Plagiarism” campaign to improve the quality and competitiveness of higher education.

Muhadjir Effendy, the rector of Malang Muhammadiyah University in East Java, one of the country’s biggest private universities, agreed with Supriadi, saying that plagiarism could be attributed to personal motivations rather than to frustration with the system.

“An academic who regularly writes for newspapers, for example, might potentially resort to plagiarism if he or she can’t handle a lot of demand [for articles] ,” he said.

Education expert Darmaningtyas said that universities must motivate students and lecturers to undertake competitive research activities to prevent plagiarism.

“By creating such an environment, a university will be able to nurture its lecturers and students to learn how to respect the works of others,” Darmaningtyas said.

 

Several modus operandi of plagiarism

1. Taking a research paper or article from a registered science journal, and copying it so that a
lecturer can replace the name of the original author with his or her name. This plagiarized
item will then be submitted along with their application for promotion.

2. Deleting a section of an already publicized scientifi c journal, and replacing it with his own
article. The bogus article will then be reprinted in a similar font format and paper size. The
lecturer hopes to receive acknowledgement by including his work in the journal.

3. Taking credit for a research paper or fi nal-year assignment completed by students attending
the lecturer’s class.

4. Directly copying and pasting a research paper, article, or parts of a paper or article, written
by another person, usually taken from Internet-based sources rather than a journal, and
passing it off as one’s own work. This is the most common method of plagiarism committed
by lecturers.

(JP/From various sources)

Source: The Jakarta Post

Di balik Isu Pencabutan Perda Islami, Awas Pengalihan Isu

  1. Dengan adanya isu Mendagri yang menghapus perda bernuansa Islam, hati-hati, jangan-jangan ini pengalihan isu.
  2. Mengapa isu Islam yang dijadikan sasaran topik pengalihan isu, karna isu agama terutama Islam adalah isu yang paling gampang untuk diperdebatkan dan meyulut amarah.
  3. Terkait dengan isu Satpol PP yang merazia warung makan, sekali lagi, hati-hati ini adalah setingan dari wartawan, yang mendapat sponsor dengan tujuan pengalihan isu.
  4. Terkait pak Ahok yang melarang sekolah mempunyai aturan tentang sergam untuk siswi Muslimah,untuk sementara abaikan saja, mungkin ia sedang memerankan diri seperti Donald Trump, dengan tujuan yang sama: menaikkan rating untuk Pemilu.
  5. Lantas isu apa yang sedang disembunyikan oleh pemerintah: salah satunya adalah Pemerintah yang gagal menepti janji menurunan harga daging Sapi. Tentu menurunkan harga daging sapi sangatlah sulit, selain karna pasokan sapi terbatas, jika harga daging sapi turun maka peternak sapi lokal bakal mati pelan-pelan.

PhotoGrid_1466190496605

6. Lalu isu apa lagi: INI YANG PALING BERBAHAYA: Indonesia yang daruruat anggaran. Dulu, saat kampanye, Bpk Jokowi selalu bilang dananya ada, dananya ada. Namun kenyataanya Indonesia di bawah pemerintahan Bpk Jokowi menumpuk hutang, hingga Indonesia terancam krisis anggaran.

13413062_1729009604042912_3937621954751977765_nCkzA-WNUoAA9Gs1Sumber Gambar: http://www.pos-metro.com/2016/06/gawat-indonesia-darurat-anggaran-negara.html

Lalu kita (terkhusus) umat Islam, kita harus bagaiamana?

  1. Sekolah tetap saja membuat aturan seragam berhijab: karna usia sekolah adalah foudasi mereka untuk membentuk generasi muda yang tangguh. Salah satunya adalah dengan memberikan aturan, dan aturan harus ditegakkan. Bukankan tujuan pendidikan kita: mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indoensia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Cerminan Beriman dan bertakwa dalam Islam salah satunya untuk wanita mengenakan jilbab. Indonesia kan negara Demokrasi, jangan maksa-maksa lah.
    Siapa bilang dalam demokrasi kita tidak boleh memaksa. Jika tidak boleh memaksa, rakyat berhentilah membayar pajak. Rakyat jika ingin naik pesawat, tak usah bayar tiket. Kalau ke sekolah negeri tak usah pakai seragam. Kalau naik kendaraan tak usah punya SIM. Dalam demokrasi tentu ada paksaan. Begitu juga dengan sekolah, setiap sekolah punya aturan masing-masing, selama aturan itu tidak mewajibkan laki-laki berjilbab, atau siswi non-muslim berjilbab, maka hormatilah.
  2. Jika Pemda mempunyai aturan untuk menertibkan warung makan, jika itu sudah menjadi aturan yang sudah mendarah daging, lanjutkan saja. Toh pemerintah pusat juga tidak merinci apa saja perda yang dicabut itu.

Sekian dan terimakasih sudah membaca.